Sinta Si Gadis Pemijat

572 views

Sinta Si Gadis Pemijat  – Sore pukul 15.00 WIB saya bersama Dika menjemput Giant, rekan kerjaku di Bandara Soekarno-Hatta yang baru menyelesaikan tugasnya di Portugal. Tiga puluh menit menunggu, Pesawat KLM yang ditumpangi Giant landing di Soekarno-Hatta. Setelah berbasa-basi kami langsung menuju Twin Cam yang diparkir di Bandara. Giant menceritakan kemolekan, kecantikan, keindahan tubuh wanita-wanita Portugal, mancung, tinggi, dada yang montok serta liang memek yang sangat legit rasanya.

Giant terus menceritakan pertemuan-pertemuannya dengan cewek-cewek Portugal yang ditidurinya, sampai-sampai saya dan Dika terasa gerah, dan ingin juga merasakan cewek-cewek Portugal itu. Disela-sela pembicaraan kami Dika bertanya.

“Giant, loe udah ngerasain memeknya cewek Portugal, gue mau tanya nich loe udah ngerasainmemeknya cewek Indonesia belom?”, sambil mengeluarkan rokok Giant menjawab.
“Gue dulu pernah ngerasain memek cewek Indonesia, tapi udah lama juga sich.., dan kayaknya emang enakkan memek Indonesia, lebih sempit tuch Ferr..”, Giant menjawab sekenanya.

Akhirnya karena ereksi, disela-sela obrolan itu, saya mencoba usul kepada mereka berdua.

“Gimana kalo kita langsung aja ngerasain memek Indonesia.., mumpung Giant dollarnya blom sampe ke rumah!” masalahnya kalo udah nyampe ke rumah doi pasti mbagi ke keluarganya dong”.

Ide spontan yang saya lontarkan diterima oleh Dika yang langsung menanggapinya.

“Yoi, nich gue juga udah 2 minggu nggak ngerasain memek!” Gimana Giant…, Ok kan!”, Dengan anggukan kepala Giant, langsung kami sepakat untuk singgah dulu di panti pijat yang sekaligus tempat berkumpulnya pereks-pereks Indonesia yang siap di pakai.

Masuk di Panti itu, kami langsung menuju Mini Bar yang letaknya di tengah-tengah ruangan temaram berukuran 8 x 8 m. Mata kami memandang sekeliling ruangan untuk mencari sasaran di dalam ruangan itu. Wanita-wanita cantik sudah memasang perangkap untuk menggaet setiap pria yang masuk. Rata-rata mereka berusia 18-35 tahun, pakaian mereka rata-rata seronok namun yang membuat saya sedikit terpana, mereka ini rata-rata memiliki HP dan mangaku sebagai mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta.

Kami memesan 3 gelas bir yang langsung diservis oleh Mami (sebutan Germo) tempat ini. Mami menawarkan si Mery yang berkulit kuning langsat tinggi, dada montok dan rambut yang sebahu, kira-kira berusia 21 tahun kepada Dika. Saya pikir kalau yang seperti itu terlalu sempit bagi saya, sedangkan Giant langsung menarik si Erna yang ke bule-bulean dengan dada montok, betis indah, pantat yang bahenol, saya tebak paling usianya baru 23.

Mereka berdua langsung bercanda akrab, sambil sesekali saling mencubit, sementara itu Mami juga menawarkan Sinta pada saya, dia sepertinya pendiam, tubuhnya tinggi, dada sedang, kulit kuling langsat, rambut tidak terlalu panjang, namun yang membuat suka padanya, dia punya body yang aduhai…, mirip gitar Spanyol. Usianya saya tebak sekitar 20-an, masih muda. Tapi wajah serta bodinya yang membuatku naksir berat padanya.

Akhirnya kami sepakat masing-masing masuk ke kamar, Giant sama Erna, Dika sama Mery sedangkan saya langsung ke kamar bersama Sinta. Saat saya masuk kamar, Sinta langsung menawarkan,

“Apa Mas mau pake Kondom”,? dan langsung saya jawab,
“Nggak usah…, nggak enak tuch Tha!”. Itapun menurut saja, dilanjutkan dengan,
“Mas pakaiannya dilepasin apa mau lepas sendiri nich?”.
“Masa saya sudah ngelepasin, punya saya Mas masih blom siich?”. Sinta memang langsung melepaskan pakaiannya sendiri setelah bertanya kepada saya sambil menutup pintu kamar yang tidak di kunci, alasannya karena sekarang sering terjadi kejahatan, makanya maaf kalau tidak di kunci katanya.

Saya tidak menjawab pertanyaan Sinta tadi, saya masih terpana melihat kemolekan, dan keindahan bentuk tubuh Sinta tanpa sehelai benangpun yang masih segar, bak buah yang siap dipetik.

Sinta terus melangkah maju mendekati saya dan langsung menengadahkan kepalanya. Sambil mengulangi lagi pertanyaannya?,

“Mas pakaiannya saya bukain yach?”, saya hanya bisa menganggukkan kepala.

Satu persatu, kancing kemeja saya di lepaskan, lalu kaos…, sementara mulut kami telah saling berpagutan, tangan saya tidak tinggal diam, saya coba menyelipkan di antara celah-celah himpitan badan kami berdua mengarah ke buah dada Sinta yang cukup menggairahkan itu. Sepertinya Sinta menginginkan permainan ini tapi saya menginginkan pijitan di badan saya dulu, karena lelah sehabis melarikan Twin Cam saya.

Akhirnya Saya lepaskan pagutan dan remasan tangan di buah dada Sinta yang mulai sedikit mengeras, tanpa di minta Sinta terus melepaskan celana panjang dan celana dalam saya. Adik kecil yang tersembunyi di balik celana dalam mulai sedikit mengeras, Sinta terpana melihat penis saya yang memang agak luar biasa ini.

“Mas…, punyanya hebat banget nich”. Dengan penuh perasaan, Sinta membelai batang kemaluan saya ini, sedikit demi sedikit. Otot nikmat milik saya ini mulai bangkit dan dia langsung mendekatkan wajahnya ke arah otot itu. Diciumnya, dilumatnya Otot itu. Saya hanya bisa mengerang,
“Uuggghh…, ooohh…, uuuggghh…, nikmatnya Tha…, trusss…, trusss”. Tapi saya tidak ingin memulai permainan dulu, makanya saya minta Sinta untuk berhenti dan memintanya untuk memijat badan saya terlebih dahulu.

Dengan pandangan protes Sinta menuruti perintah saya untuk memijit badan saya. Saya diminta untuk tidur telungkup di atas tempat tidur yang ada di kamar itu. Awalnya Sinta mulai memijat pundak dengan tangannya yang lentik, terasa nikmat pijitannya, terus sampai ke pinggang dan pantat serta paha saya. Namun kurang lebih 10 menit kemudian Sinta mulai memijat dengan mempergunakan payudaranya, ooohh…, terasa empuk, nikmat dan aagghh…, rasa nikmat mulai menjalari tubuh saya. Usapan payudaranya menyapu seluruh tubuh saya, terasa semakin lama semakin mengeras.

Saya diminta untuk berbalik, sekarang posisi saya sudah menghadap ke atas, sedangkan Sinta langsung mencium mulut saya. Kami berpagutan kembali dan saya mulai meremas lagi dada montok Sinta. Sementara itu, Pangkal selangkangan Sinta yang sudah berada di atas otot nikmat saya mulai berputar-putar. Sentuhan bibir memek Sinta yang lembut terus menggelitik otot nikmat saya. Terasa nikmat…, dan Sintapun sepertinya menikmati permainannya.

Sinta sepertinya sudah tidak sabar ingin segera memulai permainan ini, dia lepaskan lumatan bibir saya dan dengan sedikit kasar diturunkan badannya dan langsung dia ciumi otot nikmat saya sambil sesekali dikocok dengan tangan lentiknya. Sepertinya dia ingin menuntaskan permainan yang tadi saya hentikan setelah membuka celana saya. Saya biarkan dia untuk beberapa lama menikmati otot nikmat itu dan sayapun menikmati permainan mulut Sinta yang jelas-jelas sudah sangat trampil mengulum, mencium, menjilat Otot nikmat laki-laki.

Sudah lebih dari 10 menit Sinta masih terus mengulum Otot nikmat saya, tapi sepertinya dia belum merasa puas. Otot nikmat saya sudah 100% tegak dan siap untuk bertempur. Tapi Sinta tetap tidak melepaskan kulumannya,

“Oouuggghh nikmat Thaa…, trus…, trusss Tha…, Enaakkk..”, saya berpikir tidak salah pilihan saya pada Sinta untuk memuaskan nafsu saya ini, dia benar-benar sanggup membuat saya merasa nikmat.

Saya lirik Sinta yang masih terus mencium, mengocok dan mengulum Otot nikmat saya. Sampai akhirnya dia bangkit mencium bibir saya lagi dan berkata,

“Sekarang Mas…, sekarang…, cepat Mas…, aauugh…, basah punya saya Mas..”, saya coba meraba selangkangan Sinta, dan memang saya rasakan cairan agak bening keluar dari liang memek Sinta.

Pada posisi ini Sinta terus mengarahkan Otot Nikmat yang telah membesar itu ke liang Memeknya,agak sedikit sulit Otot nikmat ini menembus liang Memek Sinta yang walaupun sudah sering dimasukin penis laki-laki tapi masih terasa sempit. Perlahan-lahan otot nikmat itu menyentuh bibir Memek Sinta yang terasa lembut.

“Aauuugghh…, aauugghh…, Mas…, enaakk Mas”, Kepala Otot Nikmat itu masuk ke dalam liang Memek Sinta. Perlahan sekali batang itu masuk.

Sinta pintar sekali mempermainkan otot nikmat laki-laki, saya juga merasakan kenikmatan yang luar biasa.

“Aauuuhhgg nikmat Tha..”, sambil saya angkat pantat saya untuk lebih memasukkan otot nikmat ini ke dalam memek Sinta yang sempit. Itapun menyambutnya dengan erangan nikmat.”Masss…, nikmat Mass…, aauuugggghh…, Trusss Maas lebih dalam lagi”.

Tubuh Sinta semakin mempercepat turun naiknya tubuhku. Sepertinya Sinta akan memuntahkan laharnya. Saya tidak tahu ini lahar yang ke berapa kalinya yang dia keluarkan. Tak beberapa lama dengan tubuh mengejang Sinta mencengkeram dada saya.

“Ooouuggghh Mas…, saya keluar Mas…,. aauuugghh…, nikmat Mas terus Mas lebih dalam lagi..”.Liang Memek Sinta sudah banjir dan terasa sangat licin, walaupun saya merasakan nikmatnya genjotan-genjotan Sinta tapi saya masih belum mau mengakhiri permainan ini.

Setelah agak rileks, Sinta kuminta untuk tidur telentang biar saya yang akan menindihnya. Sintapun menurut, sebelum dia tidur terlantang dia mengambil handuk untuk mengeringkan cairan yang terlalu banyak keluar di liang Memeknya. Kemudian dia menelentangkan kedua kakinya dan meminta saya untuk segera memberikan kenikmatan-kenikmatan lainnya.

“Masss…, cepat Mass…, puaskan saya Mass…, baru sekali ini saya mendapatkan tamu seperti Masss…, yang sanggup memberikan kenikmatan kepada saya”, ucapnya.

Otot nikmat yang sejak tadi tegak sempurna telah mengarah ke liang memek Sinta yang telah dikeringkan cairannya. Liang ini terasa sedikit kesat tapi saya coba menekannya lebih keras lagi. Itapun tak tinggal diam, dia makin melebarkan kedua pahanya untuk lebih memberikan keleluasaan Otot nikmat ini memasuki liang memeknya.

“Aauuuhh…, ssstt…, aauugghh…, nggak saya sangka…, Saya dapat memek yang begitu nikmat..”, bisik saya di telinga Sinta yang sedang merasakan kenikmatan.”Beri saya kenikmatan Mass…, Aauuuggghh…, trusss..”, jawab Sinta.

Dari mulai perlahan-lahan saya menaik-turunkan tubuh saya, sampai akhirnya saya sedikit mempercepat gerakan naik turun ini. Liang Sinta sudah mulai mengeluarkan cairan lagi. Dan Sintapun sudah seperti hilang kendali, melenguh, meraung, menjambak-jambak rambut saya, menggeleng-gelengkan kepalanya dan memutar-mutar pinggulnya sehingga membuat saya semakin nikmat menghunjamkan otot nikmat ini ke liangnya. Suara,

“Crott…, croot…, crooottt”, terdengan setiap kali otot nikmat ini turun naik, sepertinya liang memek Sinta memang sudah membanjir lagi, dan itapun semakin menikmati permainan ini.

Saya semakin mempercepat gerakan turun naik ini, karena saya rasakan otot nikmat saya sudah berdenyut-denyut menandakan akan segera menembakkan cairan kenikmatannya.

“aagghh Sintaa…, saya mau keluarrr..”, dengan terus makin mempercepat genjotan, hunjaman ke liang memek Sinta.
“Saya juga mau keluar lagi Maas…, Bareng yach…, aauuughh..”, jawab Sinta.

Akhirnya dengan memeluk lebih keras tubuh Sinta, saya keluarkan cairan nikmat dalam liang memek Sinta, yang juga mengeluarkan cairan nikmat untuk kesekian kalinya.

“Crrrooott…, crrrooott…, crrrooot”. “aauuugggghh?”.Otot nikmat ini telah menyelesaikan tugasnya dengan baik, dengan memberikan kenikmatan kepada setiap wanita yang memerlukannya.

Sinta mencium bibir saya dan memeluk saya. Sambil mengucapkan terima kasih dan menjanjikan saya untuk menghubungi dia kapan saja bila saya menginginkan. Kamipun mandi bersama sambil menyabuni tubuh kami masing-masing secara bergantian.

Kami berdua tersenyum senang dan puas sambil keluar pintu kamar menuju mini bar di mana kedua rekan saya telah menantikan saya, dengan tidak sabar Dika langsung ngomong.

“Apa loe pake Viagra…, kok loe lama banget siich Benn..”, Saya hanya senyum menjawab omongan Dika.
“Nggak tau tuch Masss…, pokoknya Mass Benny hebat banget tuch…, Saya sampe kewalahan”, jawab Sinta mendengarkan omongan Dika. Erna dan Mery terlongo-longo Sambil berucap.
“lain kali sama saya yach Mass”, dan di sambut tawa renyah kami semua.

 

baca juga :

 

Tags: #ABG #bokep barat #bugil #lesibi sange #memek #nikmat #sange #semok #sempit