Cerita Seks Dewasa Bercumbu Yang Menggairahkan

396 views

Cerita Seks Dewasa Bercumbu Yang Menggairahkan – Dalam kehidupan Morin ada beberapa pria, tetapi hanya tiga yang membuatnya berkesan. Di antara yang tiga ini, adalah Fandi, seorang pria Indonesia dengan sedikit darah Belanda di tubuhnya (ayahnya Ambon-Belanda, dan ibunya seorang Jawa). Mereka bertemu ketika masih sama-sama kuliah di Bedford, Inggris. Pada awalnya mereka cuma berteman, dan Morin menyukai Fandi yang jauh lebih easy going dibanding teman-teman Asia lainnya. Selain itu, Fandi bisa bermain piano, sesuatu yang selalu menjadi kekaguman Morin.

Selama kuliah, hubungan mereka tidak pernah lebih dari teman. Baru setelah keduanya lulus kuliah, hubungan itu agak berubah. Kebetulan Morin mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan Inggris yang memiliki kantor cabang di Indonesia, dan Fandi pernah pula bekerja paruh waktu di kantor yang sama. Mereka sering bepergian berdua, dan akhirnya memutuskan untuk tinggal bersama dalam satu apartemen. Sejak itulah, hubungan seksual menjadi bagian dari persahabatan mereka. Hanya saja, persahabatan itu tak pernah berkembang lebih jauh. Keduanya tidak pernah saling mengucap cinta, dan keduanya tahu bahwa masing-masing punya orang-orang lain yang dicintai.

Fandi adalah pria Asia satu-satunya yang bercinta dengan Morin, dan bagi Morin ia adalah sesuatu yang istimewa. Tetapi Morin juga tau, perbedaan budaya keluarga mereka berdua sangatlah besar untuk dijembatani dengan sesuatu yang lebih jauh dari persahabatan. Maka jadilah hubungan keduanya sebagai hubungan persahabatan dan seksual belaka. Beberapa kali mereka pernah mencoba melihat peluang untuk meningkatkan hubungan, tetapi sekian kali pula mereka merasa tidak menemukan persamaan.

Tidak berapa lama setelah Morin mendapat kedudukan manajer dan dikirim ke Indonesia untuk mewakili perusahaannya, Fandi mendapat pekerjaan di Amerika Serikat. Perasaan duka menyelimuti keduanya ketika kenyataan itu tiba. Setelah hampir dua tahun hidup bersama, sulit juga rasanya berpisah. Walaupun tidak menangis, Morin merasa sebuah kekosongan terjadi dalam hidupnya ketika mereka berpisah di Heathrow Airport di London. Mereka berjanji akan terus berhubungan, karena toh Fandi masih memiliki orang tua di Jakarta dan sesekali akan datang menjenguk Morin.

Ketika pesawat British Airways yang membawanya ke Indonesia sudah berada 10.000 kaki di atas permukaan bumi, Morin menghela nafas panjang, dan tiba-tiba menyadari bahwa kedua matanya ternyata agak basah oleh air mata.

Begitulah akhirnya Morin dan Fandi dipisahkan oleh Lautan Pasifik. Kantor Fandi ada di Boston, dan Morin di Jakarta. Tetapi untunglah ada e-mail yang bisa menjadi media bertukar berita di antara mereka. Dan setelah dua bulan, keduanya menjadi sama-sama sibuk dan perlahan-lahan semakin jarang bertukar berita. Pada bulan keenam di Indonesia, Morin sudah hampir tak pernah mengirim dan menerima e-mail dari Fandi, dan kesibukan membuatnya tidak terlalu merasa kehilangan.

Sampai suatu hari, di bulan September, sembilan bulan setelah mereka berpisah, Morin mendapat sepotong berita pendek dari Fandi …will visit my old folks in this Thursday, see you there… Morin terpana memandang layar PC-nya, seperti tak percaya bahwa ternyata ia akan segera bertemu Fandi lagi. Dari tak percaya, perasaannya segera berubah gembira, dan ia mengangkat kedua tangan sambil berteriak, “Yess!”, membuat sekretarisnya terkejut.

“I’m okay, Evi…” ucap Morin sambil tertawa kecil melihat sekretarisnya melongo,
“I’m more than okay, actually…”
“Shall I write it down?” jawab Evi menggoda, karena ia memang sedang bersiap menerima dikte dari boss wanitanya ini. Morin pun tambah keras terbahak.

Fandi tiba malam hari dan langsung menuju rumah orang tuanya. Dari sana ia menelpon Morin, dan membuat janji untuk bertemu Sabtu siang ini. Dengan kaos t-shirt merah tua yang ketat dan rok jean Levi’s, Morin datang ke rumah orang tua Fandi untuk menjemputnya. Kedua orang tua Fandi telah mengenal Morin dengan baik, dan keduanya memaksa Morin untuk makan siang, yang tentunya tak bisa ditolak.

Sebetulnya, makan siang itu enak sekali: ayam panggang bumbu rujak, gado-gado dan udang goreng kering. Tetapi Morin dan Fandi merasa tidak lapar. Sejak bertemu, yang ada di dalam diri mereka cuma gejolak rindu bercampur birahi. Bagi Morin, inilah pertama kali di Indonesia ia merasakan gejolak seperti itu. Ia begitu ingin segera memeluk Fandi yang kini tampak lebih putih dengan rambut dicukur rapi. Ia ingin segera bercumbu dengan pria yang ia tahu sangat hangat di ranjang ini. Tetapi, di depan kedua orang tuanya dan dua adik perempuannya, Morin menjaga diri sekuat hati. Untunglah Fandi membantunya dengan juga bersikap menahan diri. Kalau tidak ada keluarga Fandi, mereka pasti sudah bergumul dan bercumbu saat itu juga.

Setelah tiga jam yang sangat menyiksa Morin dan Fandi, setelah minum kopi yang disediakan ibu, barulah mereka berdua bisa keluar rumah. Mereka bilang ingin jalan-jalan berdua, dan kedua orang tua Fandi mengangguk mahfum, tanpa banyak tanya lagi. Maka setelah berbasa-basi mengucapkan permisi, keduanya pun melesat menuju apartemen Morin di bilangan Kebayoran Baru. Fandi yang memegang setir, dan Morin duduk rapat-rapat.

Sepanjang jalan, Morin meremas-remas paha Fandi, menggeser-geserkan payudaranya yang sintal ke lengan Fandi, membuat Fandi was-was takut menabrak mobil di depannya. Morin sudah sangat bergairah ingin bercumbu, dan badannya terasa hangat seperti bara yang siap berkobar menjadi api. Untunglah jalan-jalan tidak terlalu ramai di Sabtu sore ini, sehingga akhirnya mereka tiba di apartemen Morin sebelum matahari terbuka. Cepat-cepat mereka keluar dari mobil dan bagai dua remaja berlarian menuju lobby.

Cerita Sex 2016 – Sesampai di kamar apartemennya, Morin terburu-buru ke kamar mandi. Cepat-cepat diloloskannya celana dalam yang sudah agak basah di bagian bawahnya. Lalu ia masuk ke bath-tub dan mengambil sabun wangi. Diusapnya seluruh kewanitaanya dengan busa-busa sabun, lalu dibasuhnya dengan air hangat. Ia ingin agar kewanitaannya harum menggairahkan malam ini, karena ia tahu Fandi akan memberikan sesuatu yang selama ini menjadi favorit Morin: lidahnya yang panas dan cekatan!

Keluar dari kamar mandi, Morin melihat Fandi sudah ada di kamar tidur, membuka kaos dan jeans-nya, sehingga hanya bercelana dalam. Dengan mata bergairah, dipandangnya tubuh yang kokoh dan atletis itu. Morin sangat mengagumi tubuh Fandi yang coklat kehitaman, tidak seperti tubuhnya yang baginya terlalu putih. Sebuah denyut birahi terasa di kewanitaannya setiap kali Morin memandang tubuh lelaki itu. Cepat-cepat dibukanya t-shirt, beha dan roknya, lalu ia segera menyusul Fandi ke kamar tidur.

Sejak dari rumah Fandi tadi, Morin sudah dilanda birahi. Ia ingin segera bermain cinta dengan lelaki menggairahkan ini. Terakhir kalinya ia bertemu Fandi hampir setahun lalu, itu pun dalam sebuah permainan cinta yang terburu-buru, karena mereka sedang sama-sama sibuk. Kejadiannya juga di sebuah motel kecil di Bedford, sesaat sebelum Morin berangkat ke Indonesia dan Fandi bertugas ke Amerika Serikat.

Tanpa basa-basi, Fandi mendorong tubuh Morin ke kasur, menyebabkan gadis pirang yang seksi ini terjerembab di kasur empuk. Keduanya sudah seperti diburu-buru oleh nafsu yang bergejolak tak tertahankan. Fandi menerkam tubuh putih mulus yang sintal dan padat itu dengan penuh gairah. Morin menjerit manja menyambutnya. Mereka berguling-gulingan saling berciuman, saling meremas, saling menindih. Sprei dan bantal segera berantakan dibuatnnya.

Fandi segera mengambil inisiatif kala tubuh mereka sudah terasa panas bergejolak. Didorongnya Morin dengan lembut agar tidur menelentang. Setengah dari badannya terletak di luar ranjang, sehingga kedua kakinya yang indah menggantung di pinggir ranjang. Lalu Fandi berjongkok di antara kedua kaki Morin, dan Morin dengan tegang menunggu layanan istimewa kekasihnya. Inilah permainan pembukaan yang selalu dinantinya dengan penuh antisipasi. Belum apa-apa, Morin sudah bergidik menahan geli yang akan segera datang. Fandi pun menciumi paha yang mulus ditumbuhi bulu-bulu halus itu, membuat Morin mengerang pelan. Apalagi kemudian Fandi mulai menjilati pahanya, menelusuri bagian bawah lututnya. Morin menggelinjang kegelian.

Morin merasa pahanya bergetar lembut ketika lidah Fandi mulai menjalar mendekati selangkangnya. Panas dan basah rasanya lidah itu, meninggalkan jejak sensasi sepanjang perjalanannya. Morin menggeliat kegelian ketika akhirnya lidah itu sampai di pinggir bibir kewanitaannya yang telah terasa menebal. Ujung lidah Fandi menelusuri lepitan-lepitan di situ, menambah basah segalanya yang memang telah basah itu. Terengah-engah, Morin mencengkeram rambut Fandi dengan satu tangan, perlahan menekan, memaksa pria itu segera menjilatnya di daerah yang paling sensitif.

Dengan satu tangan lainnya, Morin menguak lebar bibir-bibir basah di bawah itu, memperlihatkan liang kemerahan yang berdenyut-denyut, dan sebuah tonjolan kecil di bagian atas yang telah mengeras. Lidah Fandi menuju ke sana, perlahan sekali. Morin mengerang,

“Come on…. come on..”, bisiknya gelisah. Rasanya lama sekali, membuat Morin bagai layang-layang yang sedang diulur pada saat seharusnya ditarik. Morin mati angin. Tak berdaya, tetapi sekaligus menikmati ketidakberdayaan itu.

Fandi akhirnya menjilat bagian kecil yang menonjol itu, menekan-nekan dengan ujung lidahnya, memutar-mutar sambil menggelincirkannya. Morin menjerit tertahan, kedua tangannya melayang lalu jatuh mencengkram sprei. Geli sekali rasanya, ia sampai menggeliat mengangkat pantatnya, menyorongkan lebih banyak lagi kewanitaannya ke mulut Fandi. Serasa seluruh tubuhnya berubah menjadi cair, menggelegak bagai lahar panas.

Fandi kini menghisap-hisap tonjolan yang seperti sedang lari bersembunyi di balik bungkus kulit kenyal yang membasah itu. Tubuh Morin berguncang di setiap hisapan, sementara mulutnya tak berhenti mengerang. Terlebih-lebih ketika satu jari Fandi menerobos liang kewanitaannya, lalu mengurut-urut dinding atasnya, mengirimkan jutaan rasa geli bercampur nikmat ke seluruh tubuh Morin. Kedua kakinya yang indah terbuka lebar, terkuak sejauh-jauh mungkin, karena Morin ingin Fandi menjelajahi semua bagian kewanitaannya. Semuanya!

Maka Fandi pun melakukannya. Ia tidak hanya menjilat dan menghisap, tapi juga menggigit pelan, memutar-mutarkan lidahnya di dalam liang yang panas membara itu, mendenguskan nafas hangat ke dalamnya, membuat Morin berguncang-guncang merasakan nikmat yang sangat. Dua jari Fandi kini bermain-main di sana, keluar-masuk dengan bergairah, menggelitik dan menggosok-gosok, menekan-nekan dan mengurut.

Cerita Sex Terbaru – Cairan-cairan hangat memenuhi seluruh kewanitaan Morin, mulai membasahi bibir dan dagu Fandi. Jari-jari yang keluar-masuk itu pun telah basah, menimbulkan suara berkecipak yang seksi. Morin menggelinjang tak tahan lagi, merasakan puncak birahi melanda dirinya. Matanya terpejam menikmati sensasi yang meletup-letup di sela-sela pahanya, di pinggulnya, di perutnya, di dadanya, di kepalanya, di mana-mana!

Ngentot Ibu Tiri Nafsu Di Sofa

Ngentot Ibu Tiri Nafsu Di Sofa

Fandi merasakan kewanitaan Morin berdenyut liar, bagai memiliki kehidupan tersendiri. Warnanya yang merah basah, kontras sekali dengan rambut-rambut pirang di sekitarnya, dan dengan tubuhnya yang putih seperti pualam. Dari jarak yang sangat dekat, Fandi dapat melihat betapa liang kewanitaan Morin membuka-menutup dan dinding-dindingnya berdenyut-denyut, sepertinya jantung Morin telah pindah ke bawah.

Fandi juga bisa melihat betapa otot-otot di pangkal paha Morin menegang seperti sedang menahan sakit. Kedua kakinya terentang dan sejenak kaku sebelum akhirnya melonjak-lonjak tak terkendali. Fandi terpaksa harus memakai seluruh bahu bagian atasnya untuk menekan tubuh Morin agar tak tergelincir jatuh. Begitu hebat puncak birahi melanda Morin, sampai dua menit lamanya perempuan yang menggairahkan ini bagai sedang dilanda ayan. Ia menjerit, lalu mengerang, lalu menggumam, lalu hanya terengah-engah.

Fandi bangkit setelah Morin terlihat agak tenang. Berdiri, ia melepas celana dalamnya. Kelaki-lakiannya segera terlihat tegak bergerak-gerak seirama jantungnya yang berdegup keras. Morin masih menggeliat-geliat dengan mata terpejam, menampakkan pemandangan sangat seksi di atas hamparan sprei satin mewah berwarna biru muda. Tangan Morin mencengkram sprei bagai menahan sakit, kedua pahanya yang indah terbuka lebar, kepalanya mendongak menampakkan leher yang mulus menggairahkan, rambut pirangnya terurai bagai membingkai wajahnya yang sedang berkonsentrasi menikmati puncak birahi. Fandi menempatkan dirinya di antara kaki Morin, lalu mengangkat kedua paha Morin, membuat kewanitaannya semakin terbuka.

Morin tersadar dari buaian orgasmenya, dengan segera menuntun kejantanan Fandi memasuki gerbang kewanitaannya. Tak sabar, ia menjepit pinggang Fandi dengan kedua kakinya, membuat pria itu terhuyung ke depan, dan dengan cepat kelaki-lakiannya yang tegang segera melesak ke dalam tubuh Morin. Bagi Fandi, rasanya seperti memasuki cengkraman licin yang panas berdenyut. Bagi Morin, rasanya seperti diterjang batang membara yang membawa geli-gatal ke seluruh dinding kewanitaannya. Belum apa-apa, Morin sudah terlanda gelombang puncak birahinya yang kedua. Begitu cepat!

Fandi pun segera melakukan tugasnya dengan baik, mendorong, menarik kejantanannya dengan cepat. Gerakannya ganas, seperti hendak meluluh-lantakkan tubuh putih Morin yang sedang menggeliat-geliat kegelian itu. Tak kenal ampun, kejantanan Fandi menerjang-nerjang, menerobos dalam sekali sampai ke dinding belakang yang sedang berkontraksi menyambut orgasme. Morin menjerit-jerit nikmat, menyuruh Fandi lebih keras lagi bergerak, mengangkat seluruh tubuh bagian bawahnya, sehingga hanya bahu dan kepalanya yang ada di atas kasur.

Fandi mengerahkan seluruh tenaganya untuk memenuhi permintaan Morin. Otot-otot bahu dan lengannya kelihatan menegang dan berkilat-kilat karena keringat. Pinggangnya bergerak cepat dan kuat bagai piston mesin-mesin di pabrik. Suara berkecipak terdengar setiap kali tubuhnya membentur tubuh Morin, ramai sekali di sela-sela derit ranjang yang bergoyang sangat keras.

Morin tak lagi sadar sedang berada di mana. Ia berteriak bagai kesetanan merasakan kenikmatan yang ganas dan liar. Seluruh tubuhnya terasa dilanda kegelian, kegatalan yang membuat otot-otot menegang. Kewanitaannya terasa kenyal menggeliat-geliat, mendatangkan kenikmatan yang tak terlukiskan. Setiap kali kejantangan Fandi menerobos masuk, ia merasa bagai tersiram berliter-liter air hangat yang memijati seluruh tubuhnya.

Setiap kali Fandi menariknya keluar, Morin merasa bagai terhisap pusaran air yang membawanya ke sebuah alam penuh kenikmatan belaka. Dengan mata terus terpejam, Morin menjeritkan penyerahan sekaligus pengesahan atas datangnya puncak birahi yang tak terperi. Fandi merasakan kejantanannya bagai sedang dipilin dan dihisap oleh sebuah mulut yang amat kuat sedotannya.

Ia pun tak tertahankan lagi, memuncratkan seluruh penantian panjangnya, memuntahkan seluruh rasa terpendamnya, bercipratan membanjiri seluruh rongga kewanitaan Morin yang sedang megap-megap dilanda orgasme. Morin mengerang merasakan siraman birahi panas yang seperti hendak menerobos setiap pori-pori di tubuhnya. Morin mengerang dan mengerang lagi, sebelum akhirnya terjerembab dengan tubuh bagai lumat di atas kasur. Fandi menyusul roboh menimpa tubuh putih yang licin oleh keringat itu. Nafas mereka berdua tersengal-sengal bagai perenang yang baru saja menyelesaikan pertandingan di kolam renang.

“Oh, kamu ganas sekali, Fandi. Betul-betul ganas…” kata Morin akhirnya, setelah ia berhasil mengendalikan nafasnya yang memburu.

Fandi cuma menggumam, menenggelamkan kepalanya di antara dua payudara Morin yang besar dan lembut itu.
Setelah beberapa saat, Morin bertanya, “Berapa lama kamu di sini, Fandi?”

“Aku harus berangkat kembali Senin pagi”, jawab Fandi diwarnai keengganan. Morin terdiam.

Singkat sekali pertemuan ini, pikirnya. Sambil memeluk Fandi, ia menggumam, “Kalau begitu kamu harus menginap di sini.”

“Bagaimana kalau aku tidak mau…” jawab Fandi menggoda.
“Kalau begitu, aku yang menginap di rumah orang tuamu..” sahut Morin cepat-cepat.

Fandi tertawa, “Kalau begitu, sebaiknya aku menginap di sini!”

Dengan gemas Morin berguling menindih tubuh Fandi, menggigit bahunya cukup keras sehingga Fandi tersentak dan membalasnya dengan menggulingkan kembali tubuh Morin. Mereka berdua tertawa-tawa seperti anak-anak bermain gulat. Cairan-cairan cinta mereka berjatuhan menimpa sprei, melekat di tubuh mereka berdua, sebuah perpaduan tubuh putih mulus dan tubuh coklat.

Malam itu mereka bercumbu tak henti-hentinya sampai pagi. Bagi Morin, inilah percumbuan terpanjangnya dengan Fandi, dan justru terjadi saat mereka tak lagi tinggal bersama!

 

baca juga :

Tags: #ABG #bokep barat #bugil #lesibi sange #memek #nikmat #sange #semok #sempit

Comments are closed.

Author: 
    author